Senin, 15 Maret 2021

Diri yang Terlupakan

 

Keluarga adalah penyambung, pendengar keluh kesah, derita, kebahagian dan tempat pencurahan segala kekeliruan. Saya bernama Jamiatul Maharani, memiliki saudara bertiga, dan saya anak nomor dua dalam keluarga. Pengalaman hidup saya mungkin sangat berbeda dengan teman-teman diluar sana.

Kami dari empat bersaudara, hanya saya yang memiliki sifat dan kepribadian berbeda. Waktu kecil saya dikenal dengan seorang wanita separuh laki-laki, sebab keseharian saya berpakaian ala laki-laki, gaya rambut pendek, bahkan setiap perhiasan yang dipakaikan ke diri saya cepat sekali hilang dan tidak bertahan lama. Dikeluarga saya juga dikenal anak yang sangat pelawan pada orang tua. Saya lebih suka mencari kesenangan hidup saya sendiri dari pada mendengarkan kata orang termasuk orang tua. Ketika saya Sekolah Dasar 2 Tahun di Pekan baru, Kabupaten Palalawan, saya hanya dikelilingi oleh teman laki-laki. Pergi pagi sekolah pulang pukul 17:00 WIB tiap hari. Yang sebenarnya jadwal pulang sekolah kelas 1 dan 2 SD itu sekitar jam 12 sudah pulang. Nah saya tidak.

Kenakalan saya sangat dihafal betul oleh orang tua saya. Mereka tidak akan pernah jera memberikan hukuman agar saya jera. Dalam hal ini, hukuman sedang seperti di kasih cabe rawit, di pukul tali pinggang (tidak terlalu keras) akibat ulah saya sendiri. Saya tidak marah akan hal itu, malahan itu wajar saya mendapatkannya.

Nah, ketika saya beranjak naik ke jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama, saya harus menjalani yang namanya tes membaca Al-Qur’an dan Shalat. Ketika itu saya sama belum terbilang lancar, hingga akhirnya saya dimasukin di TPA/TPSA, yaitu tempat belajar mengaji yang dibimbing langsung oleh guru ngajinya. Wah wah, disana aku merasa orang yang terkutuk. Tidak ingat akan umur, anak kecil dibawah saya ternyata sangat lancar membaca yang menjadikan saya malu sebalik pinggang.

Namun itu belum mematahkan semangat saya untuk berani mencoba terus belajar membaca iqra’ baru ke juz ‘amma dan baru bisa nyambung ke Al-qur’an. Ketika saya sudah bisa lancar membaca Al-Qur’an, saya dicalonkan untuk mengikuti lomba-lomba mengaji antar TPA, lalu antar kecamatan hingga bisa mengikuti tingkat provinsi dengan berbeda cabang. Biasanya Tartil, kadang Tilawah dan Kadang Pidato Musabaqah Syarhil Qur’an.

Lalu selama 2 tahun di jenjang pendidikan SMP, saya merasakan ada perbedaan dalam diri saya. Saya seperti dikelilingi oleh orang-orang gaib dan ternyata memang saya bisa melihatnya. Awalnya saya tidak percaya, sampai ketika di Madrasah Aliyah, saya pernah kerasukan. Orang-orang menjadi jauh dan takut dengan saya. Saya sendiri juga merasakan ketidak enakan hidup atau melihat hal-hal yang sama sekali tidak saya inginkan.

Keluarga, sanak saudara, guru ngaji dan yang lainnya selalu memberikan saya kode untuk tetap semangat menjalani. Mereka bilang anggap hal tersebut sebagai suatu keistimewaan dalam diri kita, tapi jangan sampai menimbulkan bencana dan bahaya untuk diri. Pesan itu selalu terngiang dan teringat selalu.

Jadi, pengalaman sebenarnya masih banyak yang tidak bisa dicerikan. Intinya adalah, tidak semua orang bisa memahami kita. Maka jangan lupa untuk bercermin dan intropeksi kembali diri kita. Tanyakan pada diri kita tersebut. Serta pikirkanlah secara matang sebelum kamu ingin berucap. Sebab orang hanya menilai kita dari sisi luar pola sikap kita saja, dan hanya langsung tampak di mata saja, tanpa menanyakan terlebih dahulu apahal yang sebenarnya terjadi.

Penilaian orang akan lebih membunuh pikiran dan batin manusia. Dan hal tersebut akan selalu terekam dalam benak manusia. Maka sifat asli manusia hanya bisa menilai dan menyalahkan, tetapi tidak mau mengintropeksi akan kesalahan dalam dirinya. Oleh sebab itu, pengalaman kesusahan, kebahagian, hanya kamu yang menjalani. Ingat! Banyak orang disana yang lebih susah dan menderita darimu, tetapi mereka tetap tegar. Sedangkan dirimu masih menyia-nyiakan suatu hal yang seharusnya bisa dipertahankan untuk tetap tegar.

Semua yang saya sampaikan ini, adalah kisah yang benar-benar terjadi dalam hidup saya. Saya sampai sempat berpikiran mencampuri urusan orang. Serta membanding-bandingkan saya dengan orang lain. Maka saya belajar mengubah pola pikir dan manajemen hidup saya. Lingkungan akan membawa perubahan dalam hidup, jika kita tidak berpandai-pandai untuk memilahnya. Maka hati-hati. Ambil keputusan itu selesaikan dengan kepala dingin, dan jangan langsung mengebrak. (JM)


Wanita adalah Kunci Peradaban

 

Wanita mampu mengukir dunia dengan cara pelayanan dan tanggung jawabnya. Wanita yang terhormat tak pernah memandang bahwa ia berhenti disaat gelombang menghantam dirinya. Wanita sebagai pengokoh, wanita sebagai penyejuk dalam menghilangkan dahaga keserakahan, kenaifan, dan keegoisan. Kemulian seorang wanita tidak dapat digambarkan dengan apapun. Bahkan sejarah dunia pun belum tentu bisa mengukir sejarah bagaimana kemuliaan dan kesederhanaan seorang wanita.

Diiming-imingi dengan hal dunia, wanita mau menaruhkan posisinya ke hal yang rendah dan tidak bermartabat. Ia malah menjadikan harga dirinya sebagai pertontonan dunia maya dan hanya sebagai pemuas nafsu semata. Pilu, itulah yang terjadi melihat kondisi wanita saat ini. Padahal wanita sangat terpandang dan berkedudukan mulia. Dari Abdullah bin Amr, Rasulullah SAW bersabda: “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim).

Begitu indah dan istimewa Allah menjadikan kedudukan wanita. Sehingga Allah mengkhususkan satu surah dalam Al-qur’an yang mengkaji dan membahas seluk beluk tentang wanita, yaitu dalam Qs. An-Nisa’.

Wanita yang terkenal dengan kebaikan akhlaknya, kemurniaan harga dirinya yang dikenal sebagai perhiasan dunia. Wanita yang sangat sulit untuk diperjuangkan dan mengemban amanah saat ingin menghalalkannya. Sekarang menjadi miris dan pilu. Wanita yang dikenal sebagai pondasi maupun kunci dari peradaban. Sekarang posisi wanita serba salah, harga diri kehormatannya menjadi taruhannya, ucapannya di cemoohkan dan tidak dihormati, bahkan yang lebih menyedihkan lagi wanita rela menjual diri demi keuntungan dunia saja. Na’udzubillah.

Dr. Abdul Qadir Syaibah berkata,”Begitulah kemudian dalam undang-undang Islam, wanita dihormati, tidak boleh diwariskan, tidak halal ditahan dengan paksa. Kaum laki-laki diperintah untuk berbuat baik kepada mereka, serta dituntut untuk memperlakukan mereka dengan ma’ruf dan sabar dengan akhlak mereka.” (Huquq al Mar’ah fi al Islam: 10-11).

Dengan Allah menjadikan wanita itu terkhusus dan istimewa, maka jaga dan pertahankanlah kehormatan dimanapun dan kapanpun berada. Menjadi perhiasan dunia merupakan incaran. Wanita terkenal dengan keanggunan akhlak kepribadiannya, yang mana ketika dipandang ia dapat menyejukkan dan menentramkan jiwa. Segala hal yang berwujud dari seorang wanita ialah kedudukannya tidak akan pernah dapat ditukar maupun digantikan oleh apapun.

Tantangannnya adalah nyawa. Siapapun tidak akan bisa menanggung beban berat seorang wanita. Maka pria sangat bertugas sebagai imam, yang Allah amanahkan untuk tetap menjaga, membimbing, melindungi serta bertanggung jawab penuh terhadap martabatnya. Wanita seperti kaca yang mudah pecah. Ketika dia retak dan pecah, ia bisa menjadi berbahaya dan berbisa. Namun disaat pria memuliakannya, maka wanita adalah penyambung keberkahan dunia. Sebagaimana dalam ungkapan yang berbunyi.”Wanita adalah tiang negara, apabila wanita itu baik maka negara akan baik, sebaliknya Apabila wanita itu rusak maka negara akan rusak pula”.

Dengan hal demikian, ungkapan diatas menjabarkan karakter seorang wanita itu sangat bernilai dan pembawa perubahan. Mulai detik ini, niat dan tekadkan hati untuk kembali berproses menuju cemerlang (cermat, merendah, lugas, dan penyayang). Pahamilah kembali hakikat wanita sebenarnya, jangan sia-siakan kehormatan dan kemuliaan yang Allah berikan pada posisi wanita menjadi tersisih hilang ditelan bumi. Bangkitlah kembali wanita penegak peradaban. Jadikanlah fenomena-fenomena yang merusak martabat seorang wanita kembali mengukirkan sejarah. Ingat! Wanita itu sangat berharga dan tidak ternilai, jangan jadikan ia tidak berharga, sebab jika wanita tidak bisa mengontrol dan mengingat diri, maka generasi berikutnya juga akan demikian. (JM)

Senin, 25 Januari 2021

Keluarga Adalah Kenyamanan Yang Hakiki

Keluarga adalah tempat permulaan manusia dititipkan serta di didik menjadi generasi yang kreatif, bermodalkan iman agama, berakhlak dan berjiwa tenang.


Keluarga merupakan tulang punggung kehidupan masa dunia, yang dilandasi dengan tanggung jawab dan amanah penuh. Satu orang yang bersikeras berontak, semua keluarga merasakan kehancuran. Satu orang yang andil membela kejujuran, semua keluarga tertutupi keaiban yang telah diperbuat.

Anak menjadi faktor penentu tegaknya suatu keluarga. Jika benteng keluarga (Ayah/ibu) tidak lihai dalam mendidik. Faktor yang menjadi keluarga akan hancur bisa dipengaruhi dengan hal kecil dengan salah didikan. 

Tidak semua anak yang mendapatkan pendidikan dari orang tua mereka. Bisa jadi lingkungan mereka yang menjadikan ia terdidik. Ada juga anak yang terdidik oleh keluarganya, malah melenceng dari harapan. Sama halnya dengan sesuatu yang dipikirkan belum tentu benar, tetapi jika hati yang berinsting dan otak sebagai penelaah. Maka bisa jadi itu kebenaran nya.. Hanya saja, jarang kita temui orang yang memiliki masalah tidak mengembalikan dan bertanya kepada hatinya.

Kenyamanan suatu keluarga adalah ketika mereka tidak hanya mendidik dan membimbing serta membina solidaritas hidup anak, anak akan condong dan sangat berantusias untuk berbenah. Posisinya adalah jika orangtua mengajari saja tetapi perilaku tidak sesuai itu sama saja hal kosong. Berbeda dengan cara orangtua mengajari dan mendidik anaknya dengan selalu menyesuaikan antara ucapan dan perbuatan.

Jadi, keluarga adalah amanah terindah, terasanya kehilangan ketika kita memang berbeda tempat. Waktulah yang memisahkan untuk sementara. Tetapi kearakraban hati bathin keluarga dengan anak adalah suatu ikatan yang tidak akan pernah terputus walaupun banyak rintangan yang memisahkan.

Tidak Selamanya Posisi Itu Selalu Menjadi Yang Teratas

     


  Setiap hari, waktu terasa begitu cepat berlalu. Manusia masih bersikukuh kan diri berkhayal untuk masa depan yang cerah dan damai. Perubahan sedikit demi sedikit mulai menghiasa celah kehidupan.

  Zaman dahulu, kendaraan orang hanya bermodalkan berjalan kaki. Bertukar zaman beralih menggunakan kuda yang diberikan becak sebagai tempat agar bisa duduk. Terus berlanjut hingga menggunakan sepeda, diakhiri zaman sekarang menggunakan sepeda motor dan mobil dengan berbagai macam jenis bentuk.

       Tidak ada yang bisa membayangkan proses demi proses yang terjadi. Manusia hanya bisa menggunakan dan membelinya saja. Bergelimpangan harta menjadikan hidup mereka dengki dan sombong. 

         Pepatah mengatakan tidak selamanya orang yang berada di atas tetap di atas, tetapi mereka akan berputar seiring berjalannya waktu. Bisa jadi orang yang bersusah payah tanpa ngenal lelah dan bahaya, serta tetap istiqamah dengan ikhtiar dan niat baiknya. Mereka dengan mudah mendapatkan hal yang sama. Hanya saja, belum tentu setiap hari senang dan hidup bahagia jika bergelimang harta. Namun orang yang hidup sederhana akan merasa sangat bahagia.

    Oleh sebab itu, perputaran waktu hanya sekejap mata. Selintas memandang, sebening debu yang dihembuskan. Hilang dan sangat jarang timbul kembali. Jangan sia-siakan pengetahuan kita terhadap kecanggihan zaman. Tetap manfaatkan selagi kita mampu membudayakannya.

Pantang Mundur, Sebagian Orang Tua Tetap Bersikeras Belajar Mengaji

  Parit malintang- Jum'at barokah menghiasa suasana mesjid Dinul Ma'ruf Pasa Sama, 22 Januari 2021. Tidak bosan menuntut ilmu, orangtua juga berbondong mengulang kaji dengan semangat penuh walaupun masih dalam masa pandemi.

Mesjid merupakan tempat beribadah, tempat mengadukan keluh kesah, dan tempat paling nyaman menenangkan jiwa. Alunan suara ayat-ayat Allah digemakan.

Ratman (47), salah seorang guru mengaji bagian Irama dan tajwid. Beliau mengatakan sangat jarang ditemui orang yang sudah tua mau menuntut ilmu belajar Alquran di mesjid. Sebab gengsi menjadi alasan kuat bagi mereka yang telah lanjut usia. "Masyaa Allah, walaupun agak terbata-bata saat membaca ayat, mereka tetap mendengarkan dan mengulang kembali bacaan ayat tersebut disertai dengan tajwid dan bacaan yang jelas", ujar Ratman disela proses mengajar.

Usia tidak menjadi pembatas dalam meraih ilmu sebagai bekal di akhirat kelak. Selagi sifat minder dan gengsi kita singkirkan, tidak ada halangan untuk tetap ikhtiar.

"Dulu tidak ada yang mengajarkan, cucu-cucu dan anak pun jarang yang shalat dan mengaji. Minta tolong untuk menyimak bacaan saja mereka tidak mau," pungkas Anita (62).

Minimnya pengetahuan agama disertai tidak adanya yang menjadi panutan sebagai contoh menjadikan keluarga sunyi senyap. Sebanyak apapun anak dan cucu kita, jikalau ilmu agama tidak ada dalam hatinya. Maka sama saja tidak berarti sama sekali kehidupan akhirat. Miris. Oleh sebab itu, mulailah seimbangi kehidupan dunia dan akhirat. Dunia menjadi ladang memupuk iman ibadah, akhirat peristirahatan selama-lamanya.


Jumat, 22 Januari 2021

Realita Diri Yang Tersembunyi


     Setiap manusia diciptakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala lebih sempurna diantara makhluk lainnya. Manusia diberikan akal sebagai alat untuk mempertimbangkan kesalahan yang diperbuat dan menuntaskan kebenaran. Manusia juga dianugrahi nafsu. Setiap alunan dan gerakan yang dilakukan manusia selalu dikelilingi dengan akal dan nafsu. Nafsu ini diartikan hasrat atau keinginan yang harus tercapai. Jika tidak ada akal yang menyeimbangi maka manusia keluar dari hakikat diri manusianya.

   Nah, sekarang yang sering kita jumpai ditengah-tengah masyarakat ialah memaafkan orang lain tidak lebih mudah dari meminta maaf. Sebab, meminta maaf terkadang timbul rasa malu dan sungkan juga rasa beratnya hati untuk mengalah. Perjalanan kehidupan terkadang membawa diri terperosok dan jatuh dalam berbagai kesulitan. Melakukan segala kesalahan sangatlah mudah, mengakui kesalahan itu lebih berat.

   Realitanya, segala sifat dalam diri manusia timbul tanpa disadari seperti rasa kesal disaat orang tidak menghiraukan, rasa cemburu jika diri tidak diberikan perhatian dan kasih sayang, juga rasa egois yang hanya ingin dimiliki. Serta timbulnya sifat yang memang diri kita sendiri yang memulai seperti rasa sabar, yakni ketika kita dikucilkan dari orang lain, ketika kita diuji dengan kemarahan, ketika orang yang berbuat salah tapi kita yang memulai meminta maaf. Hal inilah yang terjadi pada generasi bangsa dan juga orangtua.

     Pendidikan dari awal yaitu keluarga sangatlah diharapkan dalam membentuk pola perilaku dan tingkah laku generasi. Pertikaian dan keributan akan selalu menyelimuti kehidupan sosial maupun rumah tangga. Hal-hal yang dianggap sepele seperti sifat-sifat yang dijelaskan malah membuat diri terjerumus ke dalam jurang yang telah kita buat.

Shalat adalah tiang agama, sabar adalah tiang hati, sifat diri adalah kunci tubuh, dan indra adalah penyatu raga dalam melakukan aktivitas.”

     Maksudnya adalah untuk melakukan persiapan dalam menata kehidupan dengan pola jernih dan tenang, lakukanlah ibadah (termasuk shalat yang lebih utama), benahi diri dengan sifat sabar dan rendah hati, netralkan sifat yang mengunci diri kita dalam berbuat, serta imbangilah dan cernalah melalui indra diri kita. Telaah satu persatu indra kita.

   Menahan lisan untuk tidak berkeluh kesah, menahan hati untuk tidak merasa marah dan menahan anggota badan untuk tidak mengekspresikan kemarahan. Maka pertikaian disebabkan kesalahpahaman tidak akan mengganggu tatanan hidup diri kita. Maka kenalilah diri kita sebaik mungkin, adapun orang yang mampu menilai secara tampak saja, tetapi tidak bisa mencerna apa yang kita rasa dan kita pikirkan. Dan berhentilah memedulikan apa yang orang lain pikirkan tentangmu.

     Ada dua cermin dalam hidup yang mesti dipatri. Cermin pertama untuk melihat diri sendiri, betapa banyak kekurangan dalam diri. Cermin kedua untu melihat orang lain, betapa banyak kebaikannya bukan memikirkan kesalahan orang. Kadang sampai lupa, karena terlalu terpaku pada anggapan bahwa diri harus sama dengan orang lain. Tidak mau kalah tentang pencapaian yang didapatkan oleh orang lain.

     Kamu tahu? Kita tidak sedang bersaing dengan siapapun. Kita juga tidak sedang dikalahkan atau mengalahkan. Maka, jika diperjalanan kehidupan ditemukan perbedaan-perbedaan, itu wajar dan biasa. Sebab Allah SWT berfirman dalam Qs. Al-Lail ayat 4: ”Bahwa sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda”. 

     Jadi bangunlah dari kelinglungan dalam diri kita. Hidup ini tidak perlu terburu-buru, nikmatilah prosesnya. Cukup mengakrabkan diri dengan melakukan apa yang dibisakan serta meniatkan setiap peran yang dijalani ini sebagai kesempatan untuk terus belajar dan mau berproses. 

Tips Menghilangkan Dilema Cinta


  Hati manusia saat ini sangat dilema dan digundahkan oleh perasaan cinta. Yang mana cinta ini suatu ketertarikan terhadap objek lain berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, saling membantu, menuruti perkataan, patuh dan mau melakukan apapun yang diinginkan terhadap gejolak emosi dihatinya. Tua dan muda ikut merasakan kehadiran cinta, cinta apakah itu? Yaitu cinta akan dunia. Khayalan yang hanya mendatangkan keinganan nafsu belaka tanpa mengetahui faedahnya apa serta dampak yang ditimbulkan juga apa. Sehingga wajar, kegundahan dan kegalauan merajalela saat hati dilanda kasmaran. Tetapi manusia lupa satu hal yang pasti terjamin selama-lamanya dan lebih mempedulikan kenaifan diri.

  Memang benar, kalau cinta itu murni apabila dihiasi dengan ikatan halal. Tetapi ada hal yang lebih murni jika cinta kita ini dilibatkan langsung dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Bagaimanakah tips atau caranya?

Pertama, niatkan kepada diri kita bahwa kita ingin mendapatkan cinta dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Kedua, perbaikilah bacaan Al-qur’an dan menyempatkan waktu membaca Al-qur’an dengan tadabbur (memahami terjemahannya) dan tartil (suara yang diindahkan saat membaca al-qur’an).

Ketiga, sempatkanlah lisan dan hati kita berdzikir dengan adab dan menghayati setiap bacaan yang dilafadzkan.

Keempat, dipertengahan malam bangunlah untuk melaksanakan shalat malam dengan hati dan anggota badan yang menunduk kepada Allah.

     Maka niscaya Allah lebih mencintai hambaNya yang selalu melibatkan dirinya kepada Allah, serta mengharapkan kasih sayangnya. Walaupun sebenarnya ia juga tahu, bahwa dirinya di dunia juga membutuhkan pasangan yang mau saling membenahi dan melengkapi setiap lobang kekurangan dalam diri.

 Adapun cara mempermudah kita dalam melakukan hal yang di atas tadi, maka:

a. hindarilah makan terlalu banyak dan terlalu kenyang.

b. usahakan menghindarkan diri dari orang-orang yang mengajak kita berbuat lalai.

c. ketika ingin beraktivitas, maka hindarilah melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat yang hanya membuang-buang waktu. Sebab waktu adalah pedang yang bisa membuat diri terlena dalam kegelapan. 

Sabtu, 16 Januari 2021

UAS Met. Penelitian Sosial

 URGENSI PUBLIC SPEAKING DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN GAYA BERBICARA


Jamiatul Maharani

Mahasiswa IAIN Batusangkar Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Jurnalistik

E- Mail

jamiatulmaharani@gmail.com


ABSTRAK

Berbicara di depan umum bukanlah tugas yang mudah untuk dilakukan. Untuk menginformasikan atau mempengaruhi orang lain membutuhkan kemampuan yang seimbang antara pembicara dengan audiennya. Dalam realitanya, ketakutan dan kecemasan menjadi faktor penghambat diri manusia. Manusia sering dihantui dengan tekanan, masalah dan kurangnya rasa percaya diri. Permasalahannya adalah setiap orang mudah berkomunikasi dengan banyak orang, tetapi tidak semua orang dapat berbicara dengan lancar dan menarik di depan khalayak ramai. Kecanggihan zaman saat ini menuntut manusia untuk bisa bergelut dan berkecamuk dalam dunia public speaking. Sebab apa? Penataan tata berbicara baik secara individu maupun kelompok sangat mementingkan adanya public speaking sebagai upaya pelatihan bakat bicara di depan khalayak ramai. Kualitas diri manusia tidak hanya dilihat dari kemampuan ilmu pengetahuan saja, tetapi melatih bakat public speaking diri juga sangat diperlukan. Dari survei yang telah dilakukan, permasalahan yang sering ditimbulkan seperti kurangnya kompetensi public speaking yang memadai. Jikalau ada, hanya mampu sebatas berbicara antara seorang diri dengan satu atau dua orang tanpa didasari dengan ilmu. Tujuan penelitian adalah mengetahui strategi dan prinsip meningkatkan kemampuan gaya berbicara melalui public speaking serta kelengkapan fasilitas yang menjadi pendukung pelatihan public speaking berjalan sukses. 

Kata Kunci: Public Speaking, Kompetensi dan Percaya Diri


A. Pendahuluan

     Menjadi seorang public speaking tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Hal yang sama ketika seseorang juga harus memahami kepribadiannya terhadap kemampuan dan keterampilan yang dimiliki. Kunci sukses sikap yang harus diambil dalam mengatasi hal ini salah satunya usahakan tetap berpikir positif. Sebab orang yang selalu berpikir positif dalam mengawali aktivitasnya akan menjadikan individu tersebut lebih optimis menghadapi hidup dan memudahkan individu dalam beraktivitas dengan mudah dan baik. Dalam hadits Rasulullah Saw bersabda:

Aku (Allah) bersama prasangka hambaku dan Aku akan selalu bersamanya. Selama dia mengingat-Ku maka Aku akan mengingatnya di dalam diri-Ku. Dan apabila dia mengingatKu dengan begitu banyaknya, maka Aku akan mengingatnya lebih banyak darinya. Dan apabila dia mendekatiKu sejengkal, maka Aku mendekatinya sehasta. Dan apabila dia mendekatiKu sehasta, maka Aku mendekatinya sedepa. Dan apabila dia mendatangiKu dengan berjalan, Aku akan mendekatinya dengan berlari”. (HR. At-Tirmidzi)

  Jika keraguan dan kebimbangan masih mengganggu konsentrasi diri, tetap optimis untuk selalu meyakini diri bisa melakukannya. Sebab, tidak ada yang tidak mungkin jikalau kita berani untuk berjuang dan berkorban dalam meraihnya. Hasil tidak akan pernah mendustakan apa yang telah kita usahakan selama ini. 

   Kemampuan komunikasi khususnya public speaking merupakan kemampuan yang bersifat mutlak yang harus dimiliki oleh setiap individu secara lisan dan langsung untuk menyampaikan pesan atau ide kepada orang lain melalui berbagai persiapan dan pelatihan yang matang. Maka untuk menjadi public speaking, individu harus memiliki kepercayaan yang tinggi, persiapan yang optimal, penguasaan kata-kata dan tata bahasa yang baik, serta gerak gerik tubuh sebagai simbol keseimbangan diri saat berbicara dan yang paling penting kemampuan mengendalikan audiens. Jangan jadikan ketakutan dan kecemasan menguasai diri secara keseluruhan. Ia akan hilang apabila kita sering melatih melawan ketakutan tersebut dan menjadikannya sebagai pelajaran dari setiap pengalaman yang didapatkan. Urgensi public speaking akan dilihat dari segi bagaimana cara diri individu dapat menguasai forum dengan baik, bagaimana cara keterampilan berbicara seimbang dengan posisi bahasa tubuh. Hal ini menuntut seseorang public speaker untuk memikirkan strategi yang optimal agar informasi tersampaikan secara efektif dan menimbulkan feedback dari audiennya serta mencetak generasi yang memiliki kemampuan public speaking yang handal dan hebat.

B. Pembahasan 

1. Public Speaking

  Lingkungan sosial menjadikan diri individu tidak bisa hidup sebagai makhluk sosial tanpa adanya komunikasi interaksi dengan orang lain. Hal ini menjadikan individu mencoba menggeluti suasana menciptakan hubungan dengan orang lain. Salah satu pemicu untuk memulai komunikasi ialah dengan berbicara. Kebanyakan dari individu saat ini, mereka terbiasa berbicara hanya dengan orang yang terdekat saja seperti keluarga dan teman-temannya. Rasa canggung mulai hadir ketika seseorang menuntut kita berbicara di depan umum. Bagi individu yang belum pernah sama sekali mencoba berbicara di depan umum karena belum memiliki ilmu dan keterampilan di bidang tersebut. Maka keterampilan berbicara seperti apa yang dimaksud.

     Keterampilan berbicara pada hakikatnya adalah keterampilan berkomunikasi, yakni keterampilan mengomunikasikan ide, gagasan, pikiran, dan perasaan secara runtut, sistematis, dan logis, yang dilakukan pembicara kepada seseorang atau sekelompok orang melaui sarana lisan berupa bunyi-bunyi artikulasi yang mengandung makna. Public Speaking merupakan bagian dari keterampilan berbahasa, khususnya berbicara. Sebagai sebuah keterampilan, tidak akan pernah datang begitu saja kepada pelakunya, akan tetapi, butuh sebuah proses. Dengan kata lain, keterampilan berbicara di depan umum ini akan semakin lancar dan sukses manakala yang bersangkutan selalu berlatih dan berlatih untuk mengasahnya.

  Tandanya dalam memulai komunikasi terhadap orang lain, individu harus memahami karakteristik bakat berbicara di depan umum ini terlebih dahulu. Di dalam lapangan banyak sekali ditemui individu dapat merangkai kata-kata serta menuliskannya dengan bahasa yang sangat menarik. Hanya saja kelemahannya itu adalah kurangnya minat untuk mencoba hal yang dianggap sulit, malah lebih memberikan hak kepada orang lain untuk membacakan pesan yang ingin disampaikan. Tentu kerugian sangat disesali sekali dalam diri individu baginya jika tidak mau berani berbuat.

   Dalam kegiatan public speaking, seseorang diminta untuk terus berlatih berbicara, menambah pengetahuan tentang apa saja. Berlatih berbicara ini juga harus memperhatikan artikulasi setiap kalimat yang akan diucapkan, diiringi juga dengan mendengarkan musik audia atau bisa dilihat di media lainnya cara penyampaian seseorang di depan umum yang membantu kita agar lebih tenang dan tidak tegang. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah kita harus sering membaca, khususnya topik-topik yang relevan dengan acara yang akan kita pandu, kemudian berlatih menuliskan teks pembicaraan yang akan kita tampilkan. Untuk menulis teks yang akan menjadi pokok pembicaraan nantinya, usahakan kata-kata serta setiap kalimatnya tidak berbelit. Disini kita harus menggunakan teknik; Pertama, mengenai siapa saja audien kita nanti. Kedua, perhatikan topik pembicaraan yang akan kita sampaikan dengan contoh fenomena yang tampak agar tujuan penyampaian kita lebih tersampaikan dan optimal tentunya. Selain itu, bekal yang tak kalah penting adalah seorang public speaker dituntut mempelajari kebudayaan, menekuni berbagai komunitas, serta aktif dalam sebuah komunitas dan melakukan budaya bicara secara berkelompok. Dengan demikian, latar belakang audien harus kita pahami terlebih dahulu seluk beluknya. Sebagai Public speaking, menetralisasikan diri dengan audien sangatlah penting sebagai kunci kelancaran keterampilan berbicara kita di depan umum.

 Menurut Herbert V. Prochnow mengembangkan kemampuan secara bertahap belajar seumur hidup, tahun demi tahun dan makin lama makin berbobot. Hal ini dapat bersamaan bagaimana memiliki kepercayaan pada diri sendiri. Kegiatan lain yang dapat mendukung kemampuan public speaking, apabila aktif melakukan berbagai kegiatan dan kehidupan sosial lainnya. Public speaking itu sendiri merupakan kemampuan retoris yang hebat yang mampu menyihir audiens dengan penerapan teknik dan prinsip yang tepat, jadilah diri sendiri. Jangan pernah ingin menjadi orang lain. Sediakan waktu khusus untuk persiapan diri sebelum tampil. Menggunakan bahasa tubuh dengan optimal untuk menarik perhatian audien. Mampu berdiri tegak dengan kokoh di hadapan para pendengarnya.

  Tarigan (1988: 15) yang mengatakan bahwa berbicara merupakan suatu alat untuk mengomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan pendengar atau penyimak. Berdasarkan batasan tersebut tersirat sebuah makna bahwa perihal berbicara harus disesuaikan dengan pendengar. Dengan kata lain, sebelum berpidato, pembicara harus memahami pendengar, dengan siapa berpidato, dan untuk kebutuhan apa ia berpidato agar gagasan yang disampaikan dapat diterima oleh penyimak karena hakikat berbicara adalah berkomunikasi (Kridalaksana, 2001: 30).

  Ahmadi (1990: 18) mengemukakan pendapatnya mengenai hakikat keterampilan berbicara. Menurutnya, keterampilan berbicara pada hakikatnya merupakan keterampilan memproduksi arus sistem bunyi artikulasi untuk menyampaikan kehendak, kebutuhan, perasaan, dan keinginan kepada orang lain. Semakin terampil seseorang dalam berbicara, maka semakin terampil dan mudahlah ia berpidato untuk menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaannya kepada orang lain serta semakin jelas jalan pikirannya, karena sesungguhnya bahasa seseorang itu mencerminkan pikirannya.

2. Kompetensi

   Dubois (1993) dan Lucia & Lepsinger (1999), Kompetensi adalah kemampuan menerapkan atau menggunakan pengetahuan, keterampilan, kemampuan, perilaku, dan karakteristik pribadi untuk melakukan tugas pekerjaan penting, fungsi tertentu, atau menjalankan peran atau posisi tertentu. Karakteristik pribadi bisa meliputi mental, intelektual, kognitif, sosial, emosional, sikap, dan fisik, psikomotor yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan.

   Menurut Spencer and Spencer (1993), kompetensi terdiri dari 5 karakteristik yaitu:

a. Skills (keterampilan) Keterampilan adalah kemampuan merencanakan, ketelitian, kemampuan memimpin, kemampuan bekerjasama dalam kelompok disertai dengan kemampuan sesuai dengan kecerdasan intelektual, emosi dan sosial dalam merencanakan, memimpin dengan ketelitian, kemampuan bekerjasama dalam kelompok (Ache 2010; Spencer & Spencer 1993). Diantaranya adanya keterampilan teknis, yaitu pengetahuan tentang dan keahlian dalam jenis pekerjaan atau aktivitas tertentu. Hal ini mencakup kompetensi, kemampuan analisis, dan kemampuan untuk menggunakan peralatan teknis yang tepat. Keterampilan manusia, yaitu pengetahuan tentang dan kemampuan untuk bekerja sama orang. Dan keterampilan konseptual merupakan kemampuan untuk bekerja dengan ide dan konsep. Seorang public speaking dengan keterampilan konseptual merasa nyaman untuk berbicara dengan ide yang membentuk organisasi dan seluk beluk organisasi serta sebagai pusat untuk menciptakan visi dan rencana strategis untuk organisasi. 

b. Motive (motivasi) Adalah sesuatu dimana seseorang secara konsisten berfikir sehingga ia melakukan tindakan. Sebagai seorang public speaking, maka motivasi sangat dibutuhkan untuk menekankan diri individu agar konsisten dengan pemikiran yang jernih serta hati yang lapang. Jika kita termotivasi untuk maju dan siap menerjang rintangan ketakutan maka kita tidak merasakan kesulitan jika melihat orang banyak. Anggap saja diri kita yang sedang dipertontonkan ini sedang berdialog agar tidak timbul kegroian dalam diri.

c. Traits adalah watak yang membuat orang untuk berperilaku atau bagaimana seseorang merespon sesuatu dengan cara tertentu. Sebagai contoh seperti percaya diri, kontrol diri, ketabahan atau daya tahan. Dalam hal ini, public speaker harus mengerahkan kemampuan yang dimiliki, dengan menyatakan “inilah saya”.

d. Self Concept adalah sikap dan nilai-nilai yang dimiliki seseorang. Sikap dan nilai diukur untuk mengetahui nilai yang dimiliki seseorang dan apa yang menarik bagi seseorang untuk melakukan sesuatu. Maka public speaker harus menerapkan sikap optimis, bawaannya tenang dan tidak tegang. Ketika public speaker menyampaikan informasi kepada audien, aura dalam diri akan terpancar dengan sendirinya. 

e. Knowledge (pengetahuan) adalah informasi yang dimiliki seseorang untuk bidang tertentu. Pengetahuan merupakan kompetensi yang kompleks. Tes pengetahuan mengukur kemampuan peserta untuk memilih jawaban yang paling benar tetapi tidak bisa melihat apakah sesorang dapat melakukan pekerjaan berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya. Ini sangat diperlukan public speaker dalam public speaking, sebab jika kita tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam berbicara di depan umum, maka sama saja kita memperlakukan diri kita sendiri

3. Percaya diri

  Dimana dan kapanpun berada sikap percaya diri sangat penting sebagai kunci keberhasilan kita terhadap tujuan yang ingin kita raih. Selagi manusia memiliki indra penglihatan, pekerjaannya hanya akan selalu melihat, memperhatikan, dan menilai. Tentunya ucapan perkataan orang lain sangat menjadikan diri terjatuh ke dalam jurang yang dalam. Namun jika kita memiliki tekad dan ambisi, serta berani action atau bertindak. Maka diri akan hidup dengan semangat.

    Percaya diri adalah sikap positif seorang individu yang memampukan dirinya untuk mengembangkan penilaian positif baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan dan situasi yang dihadapinya. Hal ini bukan berarti bahwa individu tersebut mampu dan kompeten melakukan segala sesuatu seorang diri. Rasa percaya diri yang tinggi sebenarnya hanya merujuk pada adanya beberapa aspek dari kehidupan individu tersebut di mana ia merasa memiliki kompetensi, yakin, mampu dan percaya bahwa dia bisa karena didukung oleh pengalaman, potensi aktual, prestasi serta harapan yang realistik terhadap diri sendiri. Sebagai seorang public speaking seharusnya Anda memiliki percaya diri, mengingat banyak aktivitas yang harus Anda lakukan dan membutuhkan rasa percaya diri. Anda akan gagal melakukan aktivitas itu jika tidak memiliki rasa percaya diri. (Wenny Hulukati, 2016: 3)

C. Penutup

  Adanya sebab kepentingan public speaking ialah sebagai ajang pelatihan keterampilan bakat yang dimiliki oleh tiap individu dalam meningkatkan keterampilan berbicara di depan umum juga membantu meningkatkan kemampuan berpikir kritis dalam memecahkan masalah atau mengatasinya dengan cepat.

   Adapun kegunaan public speaking ini adalah melatih kita mengetahui bakat yang mampu mempengaruhi orang lain, menjadikan diri individu bersikap optimis dan percaya diri. Jika ketemu dan berbicara dengan orang lain tidak lagi canggung serta menjadikan diri mudah bergaul dan berinteraksi dengan yang lain. Semakin individu melatih dan membentuk keterampilan berbicaranya dengan fasih, lantang dan jelas. Maka sudah pasti peluang individu akan banyak. Usaha yang dilakukan dengan perjuangan akan memperoleh penghasilan di akhir nantinya. Jadi tetaplah menjadi diri yang konsisten, terus berlatih mengasah otak, hati dan tubuh serta lakukan dengan percaya diri tanpa berlebihan.


D. Daftar Kepustakaan

Arsjad, Maidar G dan Mukti US. 1988. Pembinaan Keterampilan Berbicara Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlanga.

Burhanudin, Aan Mohamad dan A. Syathori. 2019. Peningkatan Public Speaking Mahasiswa Jurusan Kpi: Upaya Mencetak Da’i Yang Rahmatallil ‘Alamin. Jurnal Dakwah dan Komunikasi. Volume 10, No. 1

Nugrahani, Dyah. Kustantinah, Indri. Festi Himatu, Larasati. Peningkatan Kemampuan Public Speaking Melalui Metode Pelatihan Anggota Forum Komunikasi Remaja Islam. FPBS IKIP PGRI Semarang

Tarigan, Henry Guntur. 1998. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung.

Hulukati, Wenny. 2016. Pengembangan Diri Siswa SMA. Gorontalo: Ideas Publishing

Minggu, 22 November 2020

“Kehidupan Tidak Hanya Keinginan, Tetapi Tergantung Proses dalam Menjalaninya”

Narasumber: Mutiara Aisyah Husna (lebih dikenal dengan sebutan aisy) dan berumur 15 tahun.

Alamat: Kampung Tangah, Kecamatan Nan Sabaris (Sabtu, 21/11/2020) pukul 15:40 WIB hingga pukul 16: 03.

Berita Human Interest

Perkenalkan saya adalah Mutiara Aisyah Husna. Saya hanyalah seorang wanita biasa yang mencoba untuk hal yang belum pernah terlintas dalam pikiran saya. Yaahhh, begitulah saya. Setiap kita pasti mempunyai impian, cita-cita dan harapan. Harapan yang tersembunyi dari relung hati dan jiwa kita akan menimbulkan dorongan untuk melakukan suatu perubahan.  

Mengenai masalah kehidupan, orang banyak berkata bahwasannya “ Kehidupan Tanpa Cita – Cita adalah Suatu Hal yang Hampa” dan “ Kehancuran Manusia yang paling berat adalah Hilangnya Semangat Hidup karena tidak memiliki Cita-Cita untuk Diraih “. Jujur, sebelumnya saya tidak pernah terpikir tentang cita-cita saya sedikitpun. Bahkan setitik harapan maupun impian tidak terlintas dalam pikiran saya saat itu.

Berawal ketika saya pertama kali masuk ke Sekolah Dasar ( SD ), saya dulunya tidak tahu mau melakukan apa saat di dalam kelas tersebut,  karena saya  belum ada niat untuk sekolah saat itu. Namun karena dorongan dan motivasi setiap hari yang diberikan orang tua kepada saya, saya pun terpaksa harus menuruti perkataan orang tua saya. Walaupun demikian, pantang bagi saya untuk tidak menuruti perintah orang tua saya. Meskipun ayah saya bukan seorang Ustadz, Kyai bahkan Ulama. sebagai kepala keluarga, ayah saya selalu mengingatkan saya dan juga saudara saya untuk selalu mentaati orang tua, karena ridho orang tua adalah Ridho Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Saya memiliki 4 saudara, yaitu 2 laki-laki dan 2 perempuan. Saya merupakan anak bungsu dari 4 bersaudara tersebut. Abang saya yang pertama sudah melanjutkan pendidikan S2 nya di Kairo, kakak nomor dua sedang mengurus skripsi kuliahnya di Universitas Andalas, dan abang yang ketiga sedang melanjutkan pendidikannya di Pesantren Subulus Salam. Sedangkan saya sendiri sekarang baru duduk di bangku kelas IX Sekolah Menengah Pertama.

Mungkin teman-teman  mengira bahwasannya orang tua saya sangat kaya raya bukan.?? Jawabannya Tidak. Salah satu faktor saya dahulu tidak berkeinginan untuk sekolah adalah masalah ekonomi ini. Walaupun keadaan kami seperti ini, orang tua saya tidak pernah mengeluh dan putus asa bahkan pantang bagi orang tua saya menyerah begitu saja. Orang tua saya selalu yakin bahwa dibalik semua kesulitan pasti ada kemudahan. Karena itulah, saya sangat bangga dengan kedua orang tua saya yang sangat rela berkorban bahkan rela menguras  banyak tenaga secara fisik demi anak-anaknya. Melihat kondisi keluarga yang sangat minim,membuat orang tua saya rela meminjam uang kesana kemari, membantu berladang , memanen bahkan mencuci pakaian orang hanya untuk mencari uang agar  saya dan saudara saya semuanya bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi seperti orang lain. Bahkan saya dan saudara saya tidak tahu selama ini mereka berjuang mati-matian demi kami.

Penyesalan yang sangat besar bagi kami saat itu adalah ketika saya dan saudara saya mengetahui dari  salah seorang tetangga yang  menyampaikan secara langsung kepada kami bahwa orang tua saya selama ini rela tidak makan dan minum sampai mereka jatuh sakit. Bahkan orang tua saya berpesan kepada setiap orang yang mereka pinjam uang, berladang dan memanen untuk tidak memberi tahukan masalah ini kepada kami, orang tua saya lebih suka menyimpan rasa sakit itu sendiri tanpa sepengetahuan kami. Yang bodoh nya saya dan saudara saya saat itu  tidak menyadari perubahan orang tua saya sendiri yang semakin kurus dan kulitnya yang mulai hitam karena terkena sinaran matahari setiap hari.

Semenjak kejadian itu, saya selalu berusaha untuk menemukan jati diri saya pribadi. Setelah saya memiliki pemikiran dan pemahaman yang meluas yang dibantu oleh saudara saya. saya mulai merancang suatu impian dan sebuah harapan untuk masa atau istilah ngetren saat ini  adalah zaman yang akan saya jalani selanjutnya. Awalnya ketika saya berkeliling-keliling lingkungan sekitar, saya melihat seorang perempuan yang membantu seorang nenek untuk menyebrangi jalan. Disaat itu, terlintas dalam pikiran saya bahwa saya memilih cita-cita menjadi seorang penyelamat dan penolong seperti wanita tersebut. Saya pun menyampaikan kepada semua keluarga saya bahwasannya saya bercita-cita menjadi penyelamat alias pahlawan untuk masyarakat yang membutuhkan pertolongan darurat. Tetapi, semua keluarga saya malah tertawa terbahak-bahak setelah mendengar penuturan saya tentang cita-cita. Hal itu membuat saya menjadi bingung dan mulai mempertanyakan alasan kenapa mereka semua tertawa? Lalu Ayah saya menjawab,” Itu bukanlah cita-cita nak, melainkan suatu kewajiban bagi kita untuk menolong setiap orang yang sedang memerlukan pertolongan.” Tutur Ayah Aisy, Pak Imran menjelaskan.

Disaat itu, saya hanya bisa diam saja menahan malu. Di lain hari, saya pun masih selalu memikirkan apa impian dan cita-cita saya nantinya setelah sukses. Tapi saya selalu saja gagal untuk menemukan sebuah impian.

Demikianlah perjalanan hidup Aisy yang dipenuhi kebimbangan. Tidak hanya dirinya saja, tiap orang juga merasakan posisi yang sama. Faktor pendukung seperti motivasi dan dukungan dari lingkungan sekitar juga sangat berpengaruh. Beraneka ragam sisi kehidupan tidak dipunguti oleh keinginan yang diramalkan, tidak tergantung dengan keterbatasan serta menimbulkan kejenuhan. Oleh sebab itu, ambillah pelajaran dari berbagai kisah hidup seseorang sebagai panutan kita dan tinggalkan suatu kekurangan seseorang sebagai pendamping uji asah mental untuk tetap mau berproses.

NB: Untuk memenuhi tugas Ujian Tengah Semester mata kuliah Jurnalisme Online oleh Jamiatul Maharani 1830303015 dengan dosen pengampu Oktri Permata Lani, S. I. Kom., M. I. Kom

Senin, 16 November 2020

UTS Produksi Berita

 

Tingkat Kebosanan Mahasiswa selama Daring Meningkat, Kuliah Daring Malah kobarkan Kerinduan Aktivitas Kuliah Seperti Semula

Oleh: Jamiatul Maharani 1830303015

Berawal bulan maret 2020, dikabarkan oleh pihak kampus bahwa seluruh Mahasiswa IAIN Batusangkar akan melakukan kuliah daring dalam jangka beberapa bulan saja. Nyatanya sampai detik ini perkuliahan masih berlanjut dengan jarak jauh yang mengharuskan kegiatan belajar dipindah alihkan ke rumah masing-masing. Dengan alasan informasi tersebut diberikan bertujuan untuk dapat mengurangi dampak yang akan ditimbulkan oleh kedatangan virus yang mematikan ini, Covid-19.

Perkuliahan daring yang berlarut waktu ini kian menimbulkan kenangan kembali suasana lingkungan perkuliahan secara face to face, baik antara dosen dengan mahasiswa maupun mahasiswa antar mahasiswa. Seluk beluk suasana perkuliahan sangat diharapkan kembali oleh setiap mahasiswa Iain Batusangkar.

Selama kuliah online berlangsung, semangat dan proses pengajaran kurang terkontrol dan tidak memadai. Mahasiswa hanya dilingkupi oleh tugas tiap harinya maupun kegiatan praktek diluar. Adakalanya mahasiswa yang kurang mampu, dengan perumahan yang jauh dari jaringan serta fasilitas seperti laptop maupun gedget belum bisa terpenuhi. Sehingga mereka pergi untuk meminjam ke warga lainnya secara bergantian, walaupun nyatanya mereka terpaksa tidak hadir dalam perkuliahan online ini jikalau tidak bisa memiliki fasilitas tersebut. Sehingga muncullah harapan kecil bagi mereka untuk perkuliahan kembali secara tatap muka dengan langsung.

Bahkan efek lainnya kuliah daring ini, berkurangnya pengetahuan dasar dalam memahami materi yang diberikan, tanpa diberitahu dahulu penjelasan materi yang akan dibuat tugas nantinya. Hingga ada sebagian mahasiswa yang mulai sakit mata akibat bergelut dengan dunia laptop dan gedjet saja selama perkuliahan.

“Jikalau memang perkuliahan terus daring seperti ini, harusnya dosen juga tidak terlalu memaksakan mahasiswanya membuat tugas tiap harinya, apalagi jangka waktu pengumpulannya berdominan sangat tipis, sehingga sulit bagi saya untuk mengirim tugas disebabkan tempat tinggal saya yang dikelilingi pepohonan dengan lebat. Minta bantuan teman untuk mengirimkanpun kadang bisa kadang tidak. Saya merasa sangat kesulitan ketika kuliah menggunakan aplikasi zoom atau meet kamera vidio harus hidup. Saya bingung bagaimana, sinyal hilang timbul, paket yang kurang,” ujar Yulita Adilah, Mahasiswa IAIN Batusangkar jurusan Akutansi Syari’ah,  melalui via chat online (16/11)

“Mengenai masalah tugas, sistem perkuliahannya sangat berbeda dari sebelumnya. Dulu saya bisa bertanya secara langsung dengan dosen jikalau saya kurang paham, saya juga bisa bertanya dengan teman-teman, membuat tugas secara bareng-bareng lagi saat ini tidak saya rasakan. Yang bodoh tetap aja seperti itu. Jika tidak mengirimkan tugas maka absen tidak hadir, padahal saya kurang paham cara membuat tugasnya. Dengan enak jidat dosen berkata pengumpulan tugas sampai hari ini, minggu besok dan sebagainya. Saya sangat geram melihat kondisi kuliah daring ini. Menurut saya bertemu secara langsung itulah lebih menyenangkan daripada via daring.” Ungkap Fajar Ardiansyah tak kalah ngegas.

Sebenarnya perkuliahan daring maupun langsung itu bisa berjalan lancar, jikalau diantara kita saling membantu teman yang lagi kesusahan sinyal. Bermacam aplikasi juga bisa membantu mahasiswa memahami materi yang diberikan. Dosen juga memiliki hak dalam bertindak demikian. Maka mahasiswa selama daring ini dituntut mandiri, seolah-olah mereka sedang melakukan penelitian saja. Dalam meneliti setiap peneliti pasti bekerja keras sendiri untuk mendapat hasil yang maksimal bagaiamanapun caranya. Kerinduan untuk belajar seperti semula juga bukan hanya harapan mahasiswa saja, dosenpun merasa demikian. Perkuliahan enjoy, santai, diskusi lepas dan semangat, semua ikut berpartisipasi. Hal tersebut wajar dirasakan oleh siapapun saat ini.

“Tetap sabar dan berdoa, jalani saja aturan yang diberikan oleh pihak kampus. Tidak semua dosen memaksa mahasiswanya mengirim tugas dengan waktu singkat, pasti ada juga toleransi yang akan diberikan. Mungkin tingkat kebosanan inilah yang menghadirkan sifat menyalahkan antara dosen dan mahasiswanya, serta kurangnya komunikasi yang efektif. Maka mahasiswa sangat diharapkan sekali tetap berpartisipasi dalam kuliah daring ini, kondisikan dengan sebaik mungkin, jika tidak kita akan rugi,” Pungkas Amri Effendi selaku salah satu  Dosen Pengampu perkuliahan IAIN Batusangkar.

NB: UTS Mata Kuliah Produksi Berita Media Cetak, Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam/ Jurnalistik FUAD IAIN Batusangkar yang diampu oleh Ibuk Oktri Permata Lani, S. I. Kom., M. I. Kom.

Kamis, 08 Oktober 2020

Perdalam Dirimu, dan Itulah Hakikat Hidupmu

 


Perdalam Dirimu, dan Itulah Hakikat Hidupmu

Hidup dijalani membutuhkan rancangan baik dari segi potensi material, teknik serta kreativitas. Sebagian besar permasalahan utama yang dihadapi setiap individu ialah kurangnya sumber inspirasi, ide/ gagasan, dalam mengembangkan bakat serta minat yang ada dalam diri individu tersebut.

Apalagi di suasana pandemi saat ini, tidak ada lagi entrepreneur generasi milenial saat ini. Apa itu entrepreneur? Yaitu seseorang yang mampu mewujudkan ide ke dalam sebuah inovasi yang sukses. Semangat, sikap, perilaku, dan kemampuan seseorang dalam menangani suatu kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan serta menerapkan cara kerja, teknologi dan produk baru jarang sekali ditemukan. Keinginan dalam meraih suatu keuntungan dan kebahagian memiliki segalanya hanyalah angan semata.

Semakin berkembang dan majunya zaman menjadikan percaya diri, tekad dan berani mengambil resiko ditengah kegagalan menghilang. Negara lain berusaha mengembangkan bakat dan minatnya dalam memperoleh keinginan, sedangkan kita hanya bisa terpaku, permasalahan lama yang sedari dulu tidak terselesaikan dengan baik karena fokus berangan-angan bahkan cenderung diabaikan.

Untuk itu kita harus bangkit melatih dan menilai diri sendiri, apa kekurangan diri kita, apa juga yang harus diri kita benahi dan lakukan. Proses awalnya diantaranya: Harus mempunyai keterampilan konseptual dalam mengatur strategi dan menghitungkan resiko. Mempunyai sikap kepribadian jujur, disiplin diri, kreatif dan inovatif, dorongan/ keinginan, keberanian dan paling penting kepercayaan diri. Mempunyai keterampilan memimpin dan mengelola manajemen waktu dengan baik. Memiliki keterampilan dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan baik. Memiliki ketersediaan jiwa serta mental untuk bekerja keras, tekun mencapai kemajuan. Mempunyai semangat dan bersedia menerima serta menanggung kegagalan maupun resiko, dan bersedia menempuh jalan baru.

Kunci kesuksesan itu terletak dalam diri kita sendiri. Benahi diri untuk melangkah, menghasilkan ide-ide yang beragam. Tuangkan ide-ide tersebut dalam bentuk tulisan atau sketsa, jangan ada perasaan takut salah, saling menghargai, memberikan kesempatan kepada orang untuk mengeluarkan pendapat atau memberi wawasan baru serta saran kepada kita, dan jangan lupa mencatat setiap ide atau wawasan baru yang muncul. Tentu hal ini memiliki proses yang sangat panjang dan ketersediian tenaga, waktu yang banyak.

Yang mana saat ini, perkembangan peradaban sangat menuntut individu untuk terus memanfaatkan pikiran kreatifnya sesuai dengan kebutuhan. Jangan lupa memperhatikan K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) dalam diri. Bagaimanapun keadaan nantinya, kita harus memiliki komitmen, persepsi serta spirit yang menunjang kita tetap energik. Dengan ini kiat yang harus ditanam kokoh dalam diri individu, sebab dirimu mahal dan berharga. Jangan sampai direndahkan orang lain menjadikanmu putus asa dan berhenti begitu saja tanpa memandang dampak apa yang akan timbul jika kita melakukannya setengah-setengah. Jangan khawatir! Orang hanya bisa melirikmu ketita kamu menjadi orang berwibawa dengan kesuksesan yang di dapat, begitupun sebaliknya orang tidak akan mau mencari tahu apa perjuangan dibalik kesuksesanmu. Maka berbahagialah. Itulah dirimu.

 


Memupuk Semangat di Medan Organisasi

 

Mahasiswa adalah identitas diri seseorang yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi. Digelari mahasiswa ternyata memiliki tanggung jawab besar, sebab bukan hanya menimba ilmu di bangku perkuliahan namun juga dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Adakalanya keinginan bersosialisasi di lingkungan perkuliahan kurang tercapai dengan baik. Bermacam segi perbedaan sudut pandang, pola kebiasaan dan sikap tingkah laku terjalin dalam lingkup kampus perkuliahan. Pertemuan awal perkuliahan memang sangat menguji mental setiap orang. Hal itu menjadi sifat biasa calon mahasiswa baru tentunya. Di selangi kegiatan perkuliahan, tak sedap jika tidak saling mengenal satu sama lainnya. Berbagai daerah, bahasa yang beragam menjadikan hal unik tersendiri di kampus perkuliahan.

Pertemuan sering terjalin, baik dengan sesama teman kelas, sesama jurusan lain maupun berkomunikasi ria dengan kakak senior tentunya. Perlahan interaksi yang terjadi antara mahasiswa baru dengan kakak seniornya menjadi pembahasan hangat sambil bertukar pikiran serta menggali informasi liputan suasana kampus. Istilah mahasiswa kupu-kupu menjadi pembahasan membahana dikalangan mahasiswa. Tentunya siapapun akan penasaran apa sih mahasiswa kupu-kupu tersebut.

Mahasiswa kupu-kupu adalah mahasiswa yang kerjanya hanya kuliah pulang kuliah pulang setelah selesai kegiatan perkuliahan. Mahasiswa seperti ini cenderung tidak suka mengikuti serangkaian aktivitas organisasi yang ada di kampus ataupun mengikuti diskusi kelompok, sehingga mereka menjadi tertutup terhadap lingkungan atau kurangnya berinteraksi antar sesama.

Mengetahui istilah ini, menjadikan mahasiswa sedikit minder jikalau ia tidak mengikuti organisasi kampus. Dilain sisi, tujuan hakikat mereka memang hanya ingin menuntut ilmu di bangku perkuliahan saja, ingin tahu bagaimana suasana dan keluh kesah perkuliahan itu. Dengan hal demikian tidak menutup kemungkinan mahasiswa menerapkan prinsip untuk mencoba bergelut di dunia organisasi.

Waahhhh! Ini hal menarik banget untuk pembaca setia. Tujuan memang harus dicapai, namun ingat tujuan tidak begitu mudah dicapai jika kenangan dalam meraihnya belum didapatkan. Itulah gunanya Anda mahasiswa. Tidak lagi seorang siswa yang hanya fokus belajar, di kampus inilah aslinya kehidupanmu setelah berjuang dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai di medan perkuliahan saat ini. Intinya tetap ikhlas dan niat yang baik. Jalani fatamorgana kampus perkuliahan anda dengan beribu cerita kisah dan kenangan.

Memang di kampus ini juga, mahasiswa harus bisa mempertahankan nilai akademiknya, berorganisasi silahkan tapi tidak melebihi batas kemampuan fisik dan selera yang ingin kita dalami di lingkup kampus. Jangan sampai keegoisan dan keserahan mahasiswa nantinya berujung buruk. Jangan lupakan tujuan aslimu namun jalanilah tujuanmu dengan semangat, dengan rasa bangga setelah merasakan bagaimana ruang lingkup medan organisasi kampus itu. Mahasiswa berhak menjelajahi seluruh organisasi yang ada di kampus dengan tujuan mengenal keunikan organisasi dan pengamalan apa yang terkandung di dalamnya, namun jangan lupa tetap kokoh pendirian dengan organisasi yang benar-benar kamu ikuti itu untuk apa, dan hasilnya ke depan bagaimana, yang bisa melatih skill, pengetahuan dan mentalmu untuk bertempur di dunia pekerjaan nantinya. Jangan sampai organisasi kampus, kamu sebagai mahasiswa malah menjadikan organisasi kambing hitam dalam meraih prestasi di perkuliahan.

Semangat organisasi boleh, pilihlah organisasi itu satu atau dua saja namun kamu bisa membawa perubahan, pengalaman, dan skill berbeda yang dapat kamu banggakan setelah kamu berhasil menamatkan bangku perkuliahan. Jangan sekedar mahasiswa kura-kura. Apa itu? Mahasiswa yang kerjanya hanya kuliah rapat kuliah rapat saja, tetapi tidak ada hasil ketika terjun di medan lapangan, yang mana disana kamu disaksikan dan dipertontonkan oleh seluruh orang, apa yang kamu banggakan selama kuliah, apa yang kamu ambil perjalanan kisah kuliah dan organisasi. Maka buktikanlah semua yang telah kamu dalami, kamu ikuti, di sinilah di tempat inilah kamu akan di uji seberapa kemampuan akademik maupun skill mentalmu, yang sering disebut Kuliah Kerja Nyata adalah proses pelatihanmu, perusahaan dan perkantoran maupun sekolahlah yang akan menempatkanmu ketujuan terakhirmu.

Sabtu, 26 September 2020

Menunggu

Kapas-kapas putih menyelami lautan biru

Bukit-bukit hijau berdiri kokoh

Penghias mentari yang tersipu malu

Pepohonan berdaun rindang menatap hampanya relung bathin

Menari-nari dengan lentiknya dalam bisu

Hembusan angin kian mengguyupi ranting coklat tua

Menggelora sanubari setiap insan

Detikan terungkap, "Ada apa di balik jendela itu?"

Aku masih menunggu,

Bimbangan

Ketakutan

Kerinduan

Nyataaa sangat mata berkata


                          Padangpariaman, #storyheart

Diri yang Terlupakan

  Keluarga adalah penyambung, pendengar keluh kesah, derita, kebahagian dan tempat pencurahan segala kekeliruan. Saya bernama Jamiatul Mahar...